Mungkin mataku kurang melek, kurang banyak melihat suatu nan jauh diluar sana. 

Aku merasa bahwa hari buruh ini adalah hari lahirku, mungkin juga hari lahirmu. Atas segala upah yang telah kita terima secara lahiriah maupun bathiniah. Pikirku apa guna memperingati hari buruh tanpa kita sadar letak substantif dari peringatan ini? 

Dulu, buruh identik dengan pabrik, tambang, dan kerja fisik. Tetapi hari ini, realitas kerja telah bergeser menurutku. Kita tidak lagi hanya bekerja fisik mungkin, tetapi juga untuk sistem yang lebih besar dan tidak terlihat; kapitalisme digital, ekonomi atensi, dan manipulasi sosial yang datang dari perkembangan teknologi.

Kita adalah buruh zaman ini. Terasing dari diri sendiri, dijebak dalam kapitalisme digital yang menjadikan manusia sebagai komoditas. Marx melihat alienasi sebagai kehilangan kendali atas kerja, Fromm melihat manusia yang terjebak dalam konsumsi tanpa akhir, Zuboff menyingkap kapitalisme pengawasan yang mengendalikan hidup kita melalui algoritma.  

Apakah kita benar-benar memiliki kendali atas hidup kita? Atau hanya bergerak dalam sistem yang telah mengatur segalanya sebelum kita sempat menyadarinya? 

Jika Marx menyebut alienasi sebagai keterasingan dari hasil kerja, apakah hari ini kita tidak lebih jauh terasing dari diri sendiri? Apakah kita bekerja untuk kebutuhan, atau karena tekanan sosial yang menciptakan ilusi produktivitas? 

Fromm mengatakan manusia modern kehilangan jati dirinya dalam konsumsi tanpa akhir, tapi apakah kita masih bisa membedakan antara keinginan yang lahir dari diri sendiri dan yang dikondisikan oleh sistem? Apakah kita menikmati media sosial, atau telah menjadi budak dari pola yang diciptakannya? 

Zuboff mengungkap kapitalisme pengawasan, di mana data kita bukan lagi milik kita. Apakah kita masih punya kebebasan memilih, ataukah semua keputusan kita telah diarahkan oleh algoritma? Seberapa banyak kehidupan kita yang benar-benar autentik? 

Ya setidaknya, mungkin bukan hanya teknologi. Namun paling tidak aku, kau dan kita bisa memerdekakan diri sendiri atas segala tindakan kapitalisme terlebih pada benak sendiri.


Oleh : Antasena