Ramadhan di tahun 2025 ini diwarnai dengan berbagai macam fenomena yang terjadi di Indonesia. Tidak hanya dalam lingkaran social dan politik saja, permasalahan budaya yang dibentuk oleh Masyarakat juga turut mewarnai di bulan suci ini. Contohnya adalah trend velocity yang sedang marak digemari oleh Masyarakat, bahkan secara otomatis menjadi aturan di dalam lingkaran Masyarakat Ketika menjalani buka Bersama (bukber) wajib hukumnya membuat trend velocity ini. Sebagai disclaimer tulisan ini dibuat bukan berarti melarang pembaca melakukan velocity, namun tulisan ini dibuat untuk memberikan pemahaman baru dalam pandangan Jean Baudrillard mengenai trend yang dibangun dan ramai diminati saat ini.

            Oke, sebelum beranjak pada pandangan Baudrillard baiknya perlu kita pahami dulu ap aitu velocity dan mengapa trend ini digemari. Dilansir dari IDN Times, velocity berasal dari Bahasa Inggris yang bermakna kecepatan, namun dalam konteks tiktok istilah ini merujuk pada tren pengeditan video yang menggunakan efek slow motion di akhir video. Trend ini marak digemari oleh muda-mudi karena gerakannya yang mudah dan juga menjadi syarat wajib dilakukan saat bukber. Selain itu, beberapa idol Korea yang turut meramaikan menjadikan trend ini semakin viral bukan hanya di Indonesia.

            Lalu bagaimana Baudrillard memandang velocity? Pada dasarnya teori Baudrillard didasari pada kritiknya atas pemikiran Marx. Jika Marx menekankan pada produksi. Dalam pandangannya filsuf asal Prancis ini melakukan analisisnya pada budaya konsumsi Masyarakat. Secara sederhana Baudrillard menganggap bahwa konsumsi dikonseptulisasikan sebagai suatu proses dimana pembeli suatu barang terlibat secara aktif dalam upaya menciptakan dan mempertahankan rasa identitas melalui permainan barang-barang yang dibeli. Secara sederhana konsumsi tidak hanya di maknai sebagai hubungan produsen dan konsumen saja, namun konsumsi telah menjadi proses aktif yang melibatkan konstruksi simbolik rasa identitas kolektif dan individu. Dalam hal ini, yang ingin ditekankan oleh Baudrillard sebenarnya adalah konsumen tidak membeli barang untuk mengekspresikan perasaan yang sudah ada tentang siapa mereka. Sebaliknya, konsumen menciptakan perasaan tentang siapa mereka melalui apa yang mereka beli. Dari pemahaman tersebut melahirkan istilah “Aku mengkonsumsi, maka aku ada”.

            Berdasar pada kritiknya atas konsumerisme, Baudrillard memunculkan anggapan bahwa Masyarakat sekarang bukan mengkonsumsi benda, namun mengkonsumsi tanda. Masyarakat seringkali menginginkan suatu barang bukan karena kebutuhan, namun berdasarkan keinginan dan pengakuan sosial. Seperti yang terjadi dalam semua trend di sosial media (bukan hanya velocity). Atau dalam konteks lain seseorang yang ada dalam lingkaran sosial akan diterima jika melakukan hal yang sama. Ini yang disebut oleh Baudrillard sebagai manipulasi tanda. Manipulasi tanda adalah bentuk pencarian pengakuan sosial karena di balik tanda ada hasrat untuk integrasi sosial atau distinction.

            Dalam tradisi strukturalisme kita mengenal tanda, penanda, dan petanda. Sebagai contoh (tanda) cinta itu adalah gambar hati merah (Penanda) dan memiliki makna cinta (Petanda). Namun hal ini dikritik oleh Baudrillard dengan anggapan bahwa saat ini tanda bersifat manipulative, dan bagi kita sekarang lebih mementingkan penandanya daripada petanda. atau lebih spesifik lagi kita lebih mementingkan velocity-nya daripada bertemu teman, saudara, dan mengobrol saat buka bersama.

            Kehidupan kita yang dipenuhi dengan kompleksitas kode dan makna mendorong Baudrillard untuk mengemukakan konsep simulacra. Dalam konsep ini, manusia pada dasarnya tidak benar-benar hadir dalam realitas yang sesungguhnya, melainkan selalu berada dalam pemikiran imajiner dan delusi saat memahami realitas di dalam ruang tempat mekanisme simulasi terjadi. Secara sederhana, simulacra dapat diartikan sebagai konstruksi imajiner terhadap realitas tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara hakiki. Akibatnya, yang tercipta adalah realitas semu dan kepalsuan hasil simulasi (hiperrealitas).

Dalam analisisnya tentang perkembangan teknologi virtual, Baudrillard menjelaskan bahwa realitas semu dan manipulasi menciptakan kondisi di mana manusia terjebak dalam realitas yang mereka anggap asli dan nyata. Simulacra digunakan sebagai alat untuk mengendalikan masyarakat secara halus, dengan menipu mereka agar percaya bahwa simulasi adalah kenyataan yang sesungguhnya. Akibatnya, masyarakat menjadi bergantung pada simulasi dan bersikap posesif terhadapnya, hingga akhirnya mereka tidak menyadari keberadaan simulasi itu sendiri. Velocity menunjukkan bahwa masyarakat modern kini lebih bergantung pada suasana khidmat berbuka puasa yang seharusnya menjadi momen kebersamaan dalam kehidupan nyata, tetapi justru tergantikan oleh kesibukan di dunia maya.

Tulisan ini bukan serta merta menunjukkan bahwa saya melarang melakukan velocity atau trend-trend lain. Namun memberikan pemahaman baru bahwa kehidupan nyata memiliki nilai dan makna daripada kehidupan virtual. Sebagai penutup tulisan ini diakhiri dengan perkataan Baudrillard.

hari ini kita hidup di dunia yang banjir informasi, namun miskin makna

 

 Oleh : Muhammad Husain Akbar