Tidak bisa merubah sistem buruk yang ada di organisasi anda? Ini dia faktornya!!! 

Penulis tidak mencantumkan cara-cara atau teknis dalam pembenahan organisasi, hanya bagaimana caranya pembaca tahu salah satu faktor penghambat progresifitas organisasi. Membaca adalah melawan, menulis adalah berperang! 

Apa itu Organisasi? Apa itu Birokrasi?

Pertanyaan yang jawabannya sering menjadi perdebatan antarsesama. 

Organisasi menurut Max Weber adalah suatu kerangka terstruktur yang didalamnya berisikan wewenang, tanggung jawab, dan pembagian kerja untuk menjalankan masing-masing fungsi tertentu. Tentu di dalam pengertian ini jelas ada makhluk-makhluk yang menjalankan roda organisasi atau biasa disebut kader/anggota. Sedangkan menurut Karl Marx, birokrasi adalah alat dari para borjuis untuk mempertahankan kekuasaan dan mengontrol masyarakat. Marx melihat birokrasi bukan sekadar sistem administrasi, tetapi juga sebagai bagian dari struktur sosial yang berfungsi untuk mempertahankan dominasi kelas borjuis. 

Lantas apa itu “Kerangkeng Birokrasi atau The Iron Cage of Berueaucracy”? 

Teori ini dikenalkan oleh Maximilian Weber, seorang ahli politik, ekonom, geografi dan sosiolog dari Jerman. Weber mengembangkan teori tentang birokrasi dan organisasi rasional dalam karyanya yang berjudul Economy and society (Wirtschaft und Gesellschaft), yang ditulis antara tahun 1909-1920. Konsep The Iron Cage of Berueaucracy sendiri dikembangkan oleh murid muridnya pada tahun 1922 melalui terjemahan bahasa Inggris dari buku Weber “The protestant Ethic and The Spirit of Capitalism” (1905). 

Teori Iron Cage yang dikemukakan oleh Weber bertujuan untuk menggambarkan bagaimana birokrasi modern dapat membelenggu individu dalam aturan dan sistem yang kaku. Adapun pandangan Weber terhadap konsep ini sebagai berikut: 

  • Birokrasi sebagai sistem rasional. Ia memang melihat bahwa konsep ini efisien dan rasional karena memiliki aturan yang jelas, hierarki yang terstruktur dan prosedur yang sistematis. Seiring berjalannya waktu orientasi dari konsep ini hanya mengarah terhadap aturan yang harus dipatuhi daripada tujuan sebenarnya. 
  • Terjebak dalam aturan dan prosedur. Dalam “Kerangkeng besi”, individu tidak lagi bertindak berdasarkan nilai atau kreativitas, melainkan hanya mengikuti aturan tanpa mempertanyakan logikanya. mempertanyakan logikanya. 
  • Menekan kebebasan individu. Sistem ini membuat orang harus menyesuaikan diri dengan aturan yang ada sehingga kehilangan kebebasan berpikir dan bertindak. Birokrasi menjadi mesin yang hanya berorientasi pada sistem tanpa memedulikan manusia di dalamnya.
  • Dehumanisasi. Weber khawatir, semakin berkembangnya birokrasi akan membuat manusia semakin terperangkap dalam struktur yang mereka ciptakan sendiri. Nilai-nilai kemanusiaan, spontanitas, dan kreativitas tentu akan terkikis akibat dari struktur ini.
Weber berpendapat bahwa birokrasi berkembang karena kebutuhan akan organisasi yang efisien, terstruktur dan berbasis aturan yang jelas. Seiring berjalannya waktu birokrasi ini bisa menjadi “Kerangkeng Besi” (iron cage), di mana individu terjebak dalam sistem aturan yang kaku, hilangnya nilai-nilai humanis, dan ekslusifnya prosedur administrasi. 

Apa bahayanya konsep ini ketika menjadi bagian dari organisasi? 

Berdasarkan pandangan penulis, banyak organisasi mahasiswa yang masih atau tanpa sadar melanggengkan konsep ini. Adapun ciri-ciri dan dampak negatif dari “kerangkeng birokrasi” adalah 

  • Senioritas yang menghambat regenerasi, kadang kala suatu organisasi pasti lebih mementingkan jam terbang dibanding kompetensi. Hal ini membuat kader muda yang sebenarnya mempunyai ide atau kompetensi di suatu bidang terhambat dalam bergerak. 
  • Normalisasi kesalahan, salah satu poin yang ter highlight “ini sudah tradisi” atau “dari dulu memang begini” sering dijadikan alasan untuk mempertahankan sistem yang tidak efektif. Padahal kalau hal seperti ini dipertahankan terus menerus organisasi perlahan akan kehilangan relevansi dalam kemajuan zaman.
  • Mengikisnya idealisme kader dan organisasi, tentu banyak dari kita tahu bahwa sejatinya awal tujuan kita masuk organisasi untuk perubahan diri dan juga progresifitas organisasi. Tak bisa dipungkiri, ternyata banyaknya benturan birokrasi dan budaya organisasi membuat para kader kehilangan motivasi. Kader yang bertahan biasanya hanya mereka yang “bisa menyesuaikan diri” dengan sistem lama, bukan yang benar-benar ingin membawa perubahan. 
  • Apatisme dan hilangnya inisiatif kader, struktur organisasi yang terlalu birokratis dapat membuat kader merasa bahwa kontribusi individunya tidak berarti. Hal ini juga membuat para kader berpikir bahwa keberadaannya di organisasi tidak bisa memberikan impact perubahan terhadap organisasi. 
Meskipun begitu, Weber tetap melihat peluang kecil pada konsep ini. Birokrasi memang efektif, tetapi jika terlalu kaku dan eksklusif, ia akan menjadi “Kerangkeng Birokrasi” yang membelenggu manusia dalam aturan tanpa fleksibilitas. Para pelaku organisasi seharusnya bisa membaca tantangan zaman pada saat ini, sehingga hal-hal yang menghambat dan menghilangnya nilai keorganisasian dapat teratasi. Era sekarang bukan eranya “Zaman abangda dulu…” tetapi bagaimana caranya seluruh individu yang menjadi bagian dari organisasi Bergerak dan Berdampak. 

Beranikah kamu mendobrak sistem