LATAR BELAKANG
Dewasa ini, Indonesia banyak sekali dialiri dengan permasalahan
rumit yang membuat resah Masyarakat. Maraknya kasus korupsi yang terjadi di
Lembaga pemerintah, permasalahan Pendidikan yang jauh dari nilai-nilai
kebangsaan, serta hasil kerusakan alam yang berdampak pada ekosistem
lingkungan. Terlepas dari hal itu, kita sebagai kader PMII justru hanya berdiam
diri dan acuh tak acuh melihat ketidakadilan yang dikuasai oleh segelintir
pihak. Bagaimana kita menanggapi isu-isu sosial diatas dengan dasar pemikiran
khas kader PMII? Atau jika lebih spesifik lagi pertanyaannya bagaimana Aswaja
atau NDP memandang isu sosial tersebut?
Skandal Korupsi PT Pertamina: Kronologi dan Dampaknya terhadap
Ekonomi Nasional.
Kasus korupsi yang melibatkan PT Pertamina, yang mencuat dalam
periode 2018 hingga 2023, menjadi salah satu skandal keuangan terbesar dalam
sejarah Indonesia. Kasus ini berfokus pada dugaan penyimpangan dalam pengadaan
minyak mentah serta produk kilang yang berdampak signifikan terhadap keuangan
negara. Berdasarkan hasil penyelidikan Kejaksaan Agung, praktik korupsi ini
ditaksir menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 193,7 triliun. Skandal ini
terungkap setelah adanya indikasi manipulasi harga serta praktik pengadaan
ilegal yang melibatkan pejabat tinggi Pertamina serta pihak swasta.
Kronologi Kejadian.
Sejak 2018, kebijakan yang mewajibkan prioritas penggunaan minyak
mentah dalam negeri tidak sepenuhnya dijalankan. Beberapa pejabat Pertamina
diduga sengaja menekan produksi minyak domestik untuk menciptakan kebutuhan
impor yang lebih besar. Akibatnya, harga minyak impor menjadi lebih mahal
dibandingkan dengan biaya produksi dalam negeri, sehingga memberikan celah bagi
keuntungan ilegal.
Selain itu, dalam proses pengadaan, terdapat dugaan pencampuran
minyak mentah berkualitas rendah dengan produk berkualitas lebih tinggi agar
dapat dijual dengan harga premium. Salah satu bentuk praktik ini adalah menjual
bahan bakar RON 90, yang setara dengan Pertalite, dengan harga RON 92 atau
setara Pertamax setelah melalui proses pencampuran tertentu.
Penyelidikan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung akhirnya
menetapkan sembilan orang sebagai tersangka pada 24 Februari 2025. Di antara
mereka adalah Riva Siahaan, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, dan Sani
Dinar Saifuddin, Direktur Feedstock and Product Optimization PT Kilang
Pertamina Internasional. Selain pejabat tinggi Pertamina, terdapat pula
tersangka dari sektor swasta, seperti Muhammad Kerry Andrianto Riza, yang
berperan sebagai pemilik manfaat (beneficial owner) PT Navigator Khatulistiwa.
Untuk mengungkap kasus ini, Kejaksaan Agung telah memeriksa 96
saksi serta menyita hampir seribu dokumen sebagai barang bukti. Hasil
penyelidikan menunjukkan adanya berbagai bentuk manipulasi dalam pengadaan dan
harga yang berujung pada kerugian besar bagi negara.
Dampak Ekonomi dari Skandal Korupsi.
Dampak dari kasus korupsi ini tidak hanya sebatas pada kerugian
finansial akibat pengadaan yang tidak wajar, tetapi juga memperburuk beban
subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang ditanggung oleh pemerintah. Dengan
tingginya harga minyak yang dipicu oleh praktik korupsi, pemerintah harus
mengalokasikan lebih banyak dana untuk subsidi, yang pada akhirnya membebani
anggaran negara serta meningkatkan harga jual BBM bagi masyarakat.
Beberapa modus operandi yang digunakan oleh para tersangka dalam
kasus ini meliputi:
- Manipulasi
Produksi Kilang: Produksi minyak dalam negeri sengaja ditekan melalui
rapat optimalisasi hilir agar menciptakan justifikasi untuk meningkatkan
impor minyak mentah.
- Pengadaan
Impor Melalui Broker: Proses pengadaan dilakukan melalui perantara
(broker) alih-alih langsung dari sumber utama, yang menyebabkan harga
lebih tinggi dan membuka peluang keuntungan bagi pihak tertentu.
- Pemufakatan
Jahat dalam Tender: Tender pengadaan minyak mentah dan produk kilang sudah
diatur sebelumnya oleh oknum pejabat dan broker untuk memastikan pemenang
tender adalah pihak yang telah ditentukan, sehingga harga yang disepakati
jauh lebih mahal dari yang seharusnya.
- Pencampuran
RON 90 menjadi RON 92: Tersangka melakukan pembayaran untuk produk RON 92
padahal yang sebenarnya dibeli adalah RON 90 atau lebih rendah. Setelah
itu, dilakukan pencampuran di depo sehingga produk tersebut dijual dengan
harga yang lebih tinggi.
- Markup
Kontrak Pengiriman: Dalam kontrak shipping, terdapat markup hingga 13%-15%
yang secara ilegal menguntungkan pihak broker.
- Penolakan
Minyak Produksi Dalam Negeri: Minyak mentah yang diproduksi di dalam
negeri sengaja ditolak dengan alasan tidak memenuhi standar ekonomi, meskipun
harga yang ditawarkan masih dalam kisaran Harga Perkiraan Sendiri (HPS).
Hal ini dilakukan agar kebutuhan impor tetap tinggi.
Kesimpulan dan Implikasi Reformasi Sektor Energi.
Kasus ini menjadi cerminan lemahnya sistem pengawasan dan tata
kelola di sektor energi nasional. Dengan total kerugian yang mencapai Rp 193,7
triliun, skandal ini menggarisbawahi urgensi reformasi dalam proses pengadaan
dan transparansi di sektor energi. Perbaikan regulasi serta peningkatan
pengawasan terhadap pengelolaan minyak dan gas menjadi langkah penting untuk
mencegah praktik serupa di masa mendatang.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat sistem audit serta
mekanisme pengadaan yang lebih transparan dan berbasis teknologi guna
mengurangi celah bagi korupsi. Dengan demikian, kasus ini dapat menjadi
momentum bagi perbaikan sektor energi Indonesia agar lebih berintegritas dan
efisien.
Deforestasi dan Tantangan Lingkungan di Indonesia
Indonesia menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang signifikan,
terutama dalam hal deforestasi, polusi, dan perubahan iklim. Sebagai negara
dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia mengalami kehilangan
tutupan hutan dalam skala besar, yang berdampak buruk terhadap keanekaragaman
hayati dan keseimbangan ekosistem.
Masalah Lingkungan di Indonesia
Salah satu permasalahan lingkungan utama adalah deforestasi, yang
banyak disebabkan oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit. Dalam periode 2000
hingga 2012, Indonesia kehilangan lebih dari 6 juta hektar hutan akibat
konversi lahan untuk kepentingan industri. Dampak dari deforestasi ini mencakup
hilangnya habitat satwa liar, meningkatnya polusi udara dan air, serta
berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Selain deforestasi, polusi air dan udara juga menjadi perhatian
serius. Sebagian besar sungai di Jakarta dilaporkan mengalami pencemaran,
dengan 96% di antaranya terkontaminasi oleh limbah domestik dan industri. Di
sisi lain, kualitas udara yang memburuk semakin dirasakan oleh masyarakat,
menjadikannya salah satu isu lingkungan yang paling mendesak.
Indonesia juga termasuk dalam kelompok negara yang paling rentan
terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut, banjir, serta
kekeringan yang semakin sering terjadi mengancam kehidupan masyarakat dan
perekonomian nasional. Sementara itu, deforestasi yang masif mempercepat
hilangnya spesies endemik seperti orangutan Sumatra dan harimau, yang kini
semakin terancam punah akibat degradasi habitatnya. Selain defortasi yang akan
di jalankan pemerintahan kita, kita perlu menengok lebih jauh tentang banyaknya
konflik agraria di negri ini. Bahkan konflik yang dekat dengan kita seperti
geothermal di Batu saja kita malah buta, maka dari itu kami sajikan beberapa
kasus yang banyak terjadi namun tidak tayang di tiktok ataupun instrastory
instagram kita.
Masyarakat
Menjadi Korban Pembangunan Proyek Strategis Nasional Kaltara : https://youtu.be/jZsXTbRIwkM?si=cGcuZgspbRp67hxc
AFSYA: Membela
Hutan Adat: https://youtu.be/eUV2xVR-N7k?si=kN4Tts-TE9KgAsWV
Menjaga Arjuno
Welirang, Menjaga Kehidupan, Tolak Geothermal: https://walhijatim.org/2024/08/12/menjaga-arjuno-welirang-menjaga-kehidupan-tolak-geothermal/
Perampasan Lahan di Malang Selatan dan
Signifikansi Reforma Agraria dari Bawah:
https://walhijatim.org/2024/08/12/menjaga-arjuno-welirang-menjaga-kehidupan-tolak-geothermal/
Dari
Pakel Hingga Budi Pego: Krisis Sosio-Ekologis, Kriminalisasi, dan Remuknya
Keadilan Agraria di Tangan Korporasi dan Negara: https://fnksda.or.id/dari-pakel-hingga-budi-pego-krisis-sosio-ekologis-kriminalisasi-dan-remuknya-keadilan-agraria-di-tangan-korporasi-dan-negara/
Tak Ingin Kiamat Lebih Cepat, Rakyat Trenggalek Geruduk Jakarta: Tolak
Tambang Emas PT SMN!
Perjuangan
Masyarakat Adat Dayak Melawan Perusahaan Sawit di Kalimantan Barat : https://www.aman.or.id/news/read/1828
Kontroversi Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang
Deforestasi
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai deforestasi
menimbulkan reaksi yang luas di kalangan masyarakat dan aktivis lingkungan.
Dalam salah satu pidatonya, Prabowo menyatakan bahwa tidak perlu takut terhadap
deforestasi untuk memperluas lahan kelapa sawit, dengan alasan bahwa kelapa
sawit juga merupakan pohon yang memiliki daun.
Banyak ilmuwan dan aktivis lingkungan menilai pernyataan ini
bertentangan dengan fakta ilmiah, karena ekspansi perkebunan kelapa sawit
terbukti berkontribusi terhadap deforestasi, penurunan keanekaragaman hayati,
serta peningkatan emisi karbon. Kritik lain juga menyoroti risiko yang
ditimbulkan oleh pernyataan tersebut, karena dapat memberi sinyal bagi industri
untuk terus memperluas lahan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan yang lebih
luas. Para ahli menegaskan bahwa fokus utama seharusnya diarahkan pada
pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan daripada sekadar memperluas area
perkebunan.
Selain dampak ekologis, ekspansi perkebunan kelapa sawit juga
sering kali memicu konflik agraria dan merugikan komunitas lokal yang
bergantung pada hutan sebagai sumber penghidupan. Oleh karena itu, perlindungan
terhadap hutan harus menjadi prioritas dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan
kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dampak Deforestasi terhadap Masyarakat Lokal di Indonesia
Deforestasi memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan masyarakat
lokal di Indonesia, mencakup aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Kehilangan hutan yang masif tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga mempengaruhi
kesejahteraan komunitas yang bergantung pada hutan untuk mata pencaharian dan
identitas budaya mereka.
1. Hilangnya Sumber Daya Ekonomi
Bagi masyarakat lokal, hutan merupakan sumber utama penghidupan,
menyediakan kayu, hasil hutan non-kayu, dan air bersih. Ketika hutan ditebang
atau dialihfungsikan, sumber daya ini berkurang drastis, menyebabkan
meningkatnya kemiskinan dan ketidakstabilan ekonomi. Selain itu, sektor
pariwisata yang bergantung pada kelestarian hutan juga terkena dampak negatif,
mengurangi peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
2. Ancaman terhadap Budaya dan Pengetahuan Adat
Hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat adat,
tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya dan spiritual mereka.
Deforestasi dapat menghapus tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun
serta menghilangkan pengetahuan lokal dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Alih fungsi lahan hutan juga dapat menggusur komunitas adat dari wilayah yang
telah mereka tempati selama berabad-abad, mengancam kelangsungan budaya mereka.
3. Konflik Sosial dan Pengungsian
Hilangnya akses terhadap sumber daya hutan sering kali memicu
konflik sosial, terutama antara masyarakat lokal dengan pihak industri yang
melakukan ekspansi lahan. Banyak komunitas adat yang dipaksa meninggalkan tanah
leluhur mereka akibat proyek perkebunan, pertambangan, atau pembangunan
infrastruktur, menyebabkan mereka kehilangan rumah dan mata pencaharian.
4. Peningkatan Risiko Bencana Alam
Hutan berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan,
terutama dalam mencegah bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Ketika
hutan ditebang, kemampuan tanah dalam menyerap air hujan berkurang, sehingga
meningkatkan risiko banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau.
Di daerah pesisir, kerusakan hutan mangrove juga memperburuk dampak banjir rob
yang semakin sering terjadi.
5. Hilangnya Keanekaragaman Hayati dan Sumber Obat Tradisional
Deforestasi mengakibatkan hilangnya habitat alami bagi berbagai
spesies hewan dan tumbuhan, yang berkontribusi terhadap penurunan
keanekaragaman hayati. Bagi masyarakat adat, hutan juga merupakan apotek alami
yang menyediakan tanaman obat tradisional. Dengan semakin berkurangnya tutupan
hutan, akses terhadap sumber daya obat alami pun semakin terbatas.
6. Perubahan Iklim dan Gangguan Siklus Air
Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim
dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Hilangnya hutan menyebabkan
peningkatan kadar karbon dioksida, yang berkontribusi terhadap pemanasan global
dan perubahan iklim. Selain itu, deforestasi juga mengganggu siklus air,
mengurangi penyerapan air hujan, dan meningkatkan limpasan permukaan, yang pada
akhirnya memperburuk kondisi kekeringan dan banjir.
Kesimpulan
Deforestasi di Indonesia merupakan permasalahan lingkungan yang
kompleks dengan dampak luas terhadap ekosistem, masyarakat, dan ekonomi.
Hilangnya jutaan hektar hutan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit,
pertambangan, dan infrastruktur telah menyebabkan degradasi lingkungan,
peningkatan risiko bencana alam, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Selain
itu, masyarakat lokal, khususnya komunitas adat, mengalami dampak sosial dan
ekonomi yang signifikan, termasuk kehilangan mata pencaharian, konflik agraria,
dan erosi budaya.
Pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang
menyepelekan deforestasi menuai kritik karena bertentangan dengan bukti ilmiah
yang menunjukkan bahwa konversi hutan menjadi lahan perkebunan justru
memperparah kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang
lebih ketat dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk upaya konservasi
hutan, peningkatan kesadaran lingkungan, serta implementasi praktik
berkelanjutan dalam sektor industri. Hanya dengan langkah-langkah konkret,
keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat dapat terjaga demi masa
depan yang lebih lestari.
Bagaimana kita sebagai kader PMII menyikapi isu-isu sosial
sekarang?
Jika kita memakai Aswaja dalam memahami isu sosial yang marak
terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, maka dari kedua isu yang disebutkan
diatas menyalahi prinsip “Ta’adul” dalam Aswaja. Korupsi dan deforestasi
keduanya sama-sama mengambil hak-hak Masyarakat bahkan flora dan fauna yang ada
di Indonesia. Lalu apa itu keadilan? Konsep keadilan sudah sering dibicarakan
oleh para pemikir sejak dahulu, contohnya adalah Aristoteles. Menurutnya,
keadilan itu harus dibangun berdasarkan perimbangan atau proporsisi. Di dalam negara segala sesuatunya harus
diarahkan pada cita-cita yang mulia yaitu kebaikan dan kebaikan itu harus
terlihat lewat keadilan dan kebenaran. Penekanan perimbangan atau proporsi pada
teori keadilan Aristoteles, dapat dilihat dari apa yang dilakukannya bahwa
kesamaan hak itu haruslah sama diantara orang-orang yang sama
Jika kita refleksikan lagi persoalan ini secara mendasar kasus
korupsi dan juga perusakan alam juga sering terjadi di sekitar kita atau bahkan
kita sendiri yang melakukan. Contoh yang sering dilakukan adalah korupsi waktu,
hal ini paling sering dilakukan oleh kita sendiri, di mana kita seringkali
molor/datang telat setiap kegiatan yang sudah dijadwalkan. Secara tanpa sadar
kita mengambil hak waktu dari orang lain yang sudah berusaha untuk datang tepat
waktu. Selain korupsi waktu yang sering dilakukan, mungkin perusakan alam bukan
hanya penebangan pohon di hutan secara ratusan ribu hektar, lalu menggantinya
dengan Perkebunan sawit atau pertambangan, namun membuang sampah sembarangan
juga bagian dari merusak alam. Perlu berapa lama sampah-sampah yang kita buang
sembarangan untuk terurai, bisa jadi 100 tahun, 200 tahun, atau bahkan 1000
tahun yang bahkan dampaknya jauh lebih lama.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Aswaja tidak hanya dapat
dipakai sebagai metodologi dalam memandang isu sosial, tetapi juga dapat kita
pakai sebagai cara untuk lebih kritis lagi dalam melihat realitas di sekitar
kita. Terlepas dari hal itu, Aswaja yang kita anggap sebagai diskursus
keberislaman kaum PMII/Nahdliyin, yang hingga kini menjadi narasi islam
Indonesia arus utama, kini telah menjelma menjadi “Monumen mati”, ibarat barang
antic yang hanya dipajang di sebuah lemari tua, sebagai barang antic ia hanya menjadi
peninggalan masa lalu yang hanya dipajang walaupun sudah lawas
Referensi:
- https://www.kompas.id/artikel/skandal-minyak-pertamina-bagaimana-kronologi-dan-apa-dampaknya
- https://katadata.co.id/berita/nasional/67c00d005f8f3/kronologi-korupsi-pertamina-yang-rugikan-negara-hingga-rp-200-triliun
- https://video.kompas.com/watch/1827929/kronologi-dugaan-korupsi-pertamina-patra-niaga-turunkan-produksi-agar-bisa-impor
- https://www.tempo.co/hukum/kronologi-korupsi-pertamina-yang-rugikan-negara-hampir-rp-200-triliun-1212348
- https://video.kompas.com/watch/1828047/full-awal-mula-terbongkarnya-kasus-dugaan-korupsi-pertamina
- https://www.kompas.id/artikel/kronologi-kasus-pertamina-rugikan-negara-rp-1937-triliun-produk-ron-90-dibayar-seharga-ron-92
- https://video.kompas.com/watch/1828186/kronologi-7-tersangka-dugaan-korupsi-pertamina-muluskan-aksinya-demi-cari-untung
- https://www.tempo.co/hukum/berikut-kronologi-kasus-pertamina-yang-menjerat-karen-agustiawan-813884
- https://www.cnbcindonesia.com/news/20250227072829-4-614003/kronologi-lengkap-peran-2-tersangka-baru-korupsi-tata-kelola-minyak
- https://www.liputan6.com/news/read/5935791/kasus-korupsi-minyak-mentah-manipulasi-impor-atur-broker-oplos-pertalite-jadi-pertamax
- https://unsia.ac.id/polemik-bbm-etika-kepada-konsumen/
- https://www.tempo.co/ekonomi/serba-serbi-kasus-pertamina-diduga-mengoplos-pertalite-jadi-pertamax-1213446
- https://www.kompas.id/artikel/bagaimana-korupsi-minyak-mentah-dilakukan
- https://www.antaranews.com/berita/4706393/polisi-ada-peluang-tersangka-baru-pada-manipulasi-minyakita-di-banten
- https://banten.indonesiasatu.co.id/pelaku-manipulasi-takaran-minyak-ditangkap-ditreskrimsus-polda-banten
- https://www.pandeglangnews.co.id/news/16314747462/polda-banten-tangkap-pelaku-manipulasi-takaran-minyak-kita-di-tangerang
- https://www.detik.com/bali/hukum-dan-kriminal/d-7795813/modus-jahat-skandal-korupsi-tata-kelola-minyak-hingga-negara-rugi-rp-193-7-triliun
- https://www.green.earth/blog/deforestation-in-indonesia-and-its-impact-on-the-environment
- https://tanahair.net/indonesia-faces-environmental-health-crisis-new-survey-reveals/
- https://www.bbc.com/indonesia/articles/c878ng8gdgpo
- https://www.voaindonesia.com/a/aktivis-lingkungan-pernyataan-prabowo-soal-sawit-dan-deforestasi-membahayakan/7922112.html
- https://news.mongabay.com/2025/01/indonesian-president-says-palm-oil-expansion-wont-deforest-because-oil-palms-have-leaves/
- https://www.thejakartapost.com/opinion/2025/01/08/palm-plantations-cannot-replace-forests-mr-president.html
- https://en.infosawit.com/news/15048/prabowo-s-statement-on-palm-oil-sparks-controversy-over-deforestation
- http://www.thejakartapost.com/business/2024/12/31/prabowo-wants-more-palm-oil-plantations-says-not-to-fear-deforestation.html
- https://www.povertyactionlab.org/blog/11-28-22/understanding-environmental-challenges-indonesia-importance-collaboration-evidence
- https://ccpi.org/country/idn/
- https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/info_singkat/Info%20Singkat-XVI-2-II-P3DI-Januari-2024-189-EN.pdf
- https://bogorkota.bps.go.id/en/news/2025/01/10/132/indonesian-environment-day-2025.html
- https://hijau.bisnis.com/read/20250117/651/1832674/program-pangan-prabowo-bakal-naikkan-laju-deforestasi-hutan-capai-300-di-2025
- https://forestinsights.id/prabowo-kumpulkan-sejumlah-menteri-bahas-penertiban-sawit-di-kawasan-hutan-tindaklanjut-perpres-5-2025/
- http://www.thejakartapost.com/indonesia/2023/11/14/prabowo-criticizes-eu-on-deforestation.html
- https://iesr.or.id/wp-content/uploads/2024/12/Indonesia-Energy-Transition-Outlook-2025-Digital-Version.pdf
- https://www.climateimpactstracker.com/environmental-issues-in-indonesia-a-growing-concern/
- https://climatecommunication.yale.edu/publications/climate-change-in-the-indonesian-mind/toc/3/
- https://e360.yale.edu/features/prabowo-subianto-indonesia-nickel-mining-rainforest
- https://indonesiabusinesspost.com/3397/energy-and-resources/greenpeace-criticizes-prabowo-administration-over-climate-environmental-policies
%20sedang%20berdiskusi%20dalam%20suasana%20akademik.%20Mereka%20mengenakan%20jaket%20biru%20dengan%20logo%20bertuliskan%20%20_PMII_%20.%20Salah%20satu%20mahasiswa%20se%20(3).jpg)
No comments
Post a Comment